Pemutus Tradisi Buruk Keluarga dan Pembuka Jalan ?

Hampir setiap orang pernah melewati pergulatan dalam perjalanan hidupnya guna menemukan jati dirinya, serta menemukan jawaban atas setiap persoalan hidupnya.

Entah itu menjawab pertanyaan tentang siapakah dirinya, mengapa dirinya tidak seberuntung orang lain, mengapa fisiknya tidak sesempurna orang lain, mengapa bukan orang tuanya yang jadi presiden, mengapa seseorang harus sekolah, mengapa harus menyembah Tuhan, bagaimana mengontrol hasrat seksualnya, bagaimana harus tampil di muka umum dsb.

Tidak jarang dalam menjalani episode kehidupannya ybs. harus melewati jalan berliku, kadang mendaki, menginjak duri, mengalami peristiwa menyakitkan, menakutkan, memalukan, mengalami kebingungan dalam kesendirian, tanpa pernah tau “cara” menghadapinya dan kapan semua kesulitan tsb. akan berakhir.

Ada yang harus melewati pelecehan seksual terlebih dahulu, ada yang harus mengalami kehilangan orang yang dicintai, ada yang harus mengalami kesulitan ekonomi, ada yang harus mengalami hinaan yang luar biasa, ada yang harus terperosok ke narkoba ataupun lembah hitam lebih dahulu.

Sayangnya tidak ada kurikulum sekolah yang mengajarkan tentang bagaimana seseorang harus mengolah dirinya, mengelola emosionalnya dan kalaupun ada tidak lebih dari sebatas informasi apa itu kecerdasan emosional, apa itu resiko, apa itu rencana dsb. Akibatnya seseorang baru mulai belajar mengenal dirinya saat semua cobaan menerpa dirinya.

Ironisnya, tidak jarang orang tua, pengasuh ataupun guru yang diharapkan sebagai pengawal sampai ybs. menemukan jati dirinya, justru yang menjadi “monster” nya. Seharusnya orang tua yang menjadi pelindung dirinya saat belajar menghadapi kehidupan justru yang menjadi algojo yang menghancurkan masa depannya.

Apakah memang kehancuran seperti itu yang kita inginkan ?

Jika tidak, mulailah sejak awal kita masukkan kebiasaan belajar tentang psikologi anak, psikologi remaja ke dalam agenda kehidupan kita baik melalui buku, pelatihan ataupun internet dsb. Tidak sekedar melanjutkan “tradisi” keluarga tentang bagaimana menghukum anak.

Dan saat buah hati mengalami “masalah”, posisikan ybs. sebagai korban yang sedang membutuhkan pertolongan Anda, bukan sebagai pembuat onar yang sedang merongrong kewibawaan dan nama baik keluarga. Jika perlu fasilitasi mereka untuk meminta bantuan profesional dalam memecahkan masalah.

Mulailah membiasakan sejak dini mengirim mereka ke pelatihan remaja terutama yang berhubungan dengan manajemen diri, manajemen emosional, kecerdasan emosional dan beri dukungan penuh saat mereka mulai menekuni bidang yang paling mereka sukai dan biarkan mereka terlibat dalam kegiatan organisasi sekolah ataupun sosial.

Dengan demikian Anda menjadi pionir pemutus rantai “tradisi buruk keluarga” yang diturunkan secara turun temurun seperti pola asuh dengan kekerasan, ancaman ataupun iming iming dalam mendidik anak dan menjadi pembuka jalan kebaikan bagi generasi berikutnya.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s