Kecanduan Korupsi ?

Sama seperti narkoba ataupun judi, kecanduan korupsi memiliki konfigurasi emosional yang mirip dimana terdapat dorongan untuk semakin sering melakukannya dan dosisnya semakin meningkat.

Yang membedakannya narkoba ataupun judi hanya merugikan diri sendiri atau paling jauh merepotkan keluarga, sedang korupsi biasanya melibatkan orang lain dan berdampak sangat luas bagi orang lain.

Hal tersebut bisa jadi disebabkan oleh adanya kebutuhan akan rasa nyaman akibat penderitaan ataupun kemiskinan yang terjadi di masa lalu sehingga terbentuk “kebencian” atau semacam fobia pada kemiskinan.

Akibatnya begitu ada peluang (baca : kesempatan berkuasa) untuk melakukan korupsi, ditambah sistem pengawasan yang lemah memberikan pengalaman yang “menyenangkan” tentang betapa mudahnya memperoleh fulus tanpa perlu bekerja keras dan menimbulkan keinginan yang kuat untuk dapat diulangi.

Apabila hal tersebut terus terjadi berulang tanpa sanksi apapun akan menimbulkan efek “toleransi” yang semakin lama semakin hebat dimana muncul kebutuhan untuk meningkatkan “dosis” korupsinya agar efek menyenangkan yang sama dengan sebelumnya diperoleh kembali.

Kalau hal tersebut sudah terjadi maka tidak ada yang bisa menghentikannya kecuali hanya keinginan yang kuat dari dalam dirinya. Dan jika korupsi sudah dilakukan secara “berjemaah” maka akan semakin sulit untuk disembuhkan.

Itu sebabnya penangannya harus bersifat preventif bukan kuratif seperti dimasukkannya nilai nilai profesionalisme dalam pendidikan, ilmu manajemen diri atau kecerdasan emosional sejak dalam keluarga, pemahaman bahwa sekolah, pekerjaan ataupun berkeluarga hanyalah “alat” bukan tujuan hidup itu sendiri dsb.

Di sisi lain terus dilakukan perbaikan kualitas yang terus menerus dan berkesinambungan dibidang pendidikan, perusahaan, pemerintahan dan masyarakat.

Dengan demikian pada level individual / keluarga berfokus pada pengembangan kompetensi / profesionalisme sementara pada level lembaga berfokus pada pengembangan sistem.

Ingin menghilangkan kecanduan? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/

Satu pemikiran pada “Kecanduan Korupsi ?

  1. Saya pernah bekerja di perusahaan besar yang bergerak pada divisi agribisnis. Pada tingkat karyawan sampai dengan pihak manajemen level tinggi, kejujuran karyawan sangat tinggi dengan prestasi kerja yang juga sangat baik. Seharusnya PNS yang nota bene orang-orang terpilih (baca : pintar) kinerjanya bisa lebih baik, kenapa justru sebaliknya.
    Ada tiga hal utama menurut saya kenapa bisa terjadi :
    1. Take home pay PNS`sangat rendah.
    2. Aturan PNS sangat-sangat longgar (hampir tidak ada
    aturan) terutama berkaitan dengan sangsi thdp PNS. (Saya kutip salah satu perjajian kerja dengan perusahaan swasta yaitu kalau tidak hadir 5 hari berturut-turut maka otomatis mengundurkan diri sebagai karyawan). Bagaimana dengan aturan PNS. Berapa banyak PNS yang hanya datang utk mengambil gaji, tanpa kerja ? Pada karyawan swasta tdk akan terjadi seperti itu
    3. Rekrutmen PNS bukan berdasarkan kebutuhan, lebih baik naikan gaji PNS kemudian perbaikan UU kepegawaian beserta PP nya yang lebih tegas menindak PNS nakal.
    Semoga PNS jadi kebanggan BANGSA. AMIN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s