Logika Berpikir Pengebom ?

Tidak ada yang salah dengan bersikap waspada, pasca pengeboman hotel JW Marriott dan Ritz Carlton.

Namun bersikap reaktif apalagi panik seperti memeriksa secara ketat jalan keluar (tol ?) sebuah bandara, belum tentu efektif dan berguna (bukankah yang mau diamankan bandaranya, bukan luar bandaranya…….).

Untuk mengerti kebiasaan berpikir seorang pengebom bunuh diri, tidak bisa dengan jalan berpikir seorang insinyur.

1. Seorang insinyur dominan berfikir dengan cara linier, sementara pengebom dominan dengan cara kreatif

2. Seorang insinyur berfikir dengan keteraturan atau sesuai prosedur, sementara seorang pengebom berpikir secara acak dan spontan

3. Seorang insinyur lebih percaya kepada penalarannya, sementara seorang pengebom mengandalkan intuisinya

4. Seorang insinyur berfikir membangun benteng, sementara seorang pengebom menunggu kelengahan kita

5. Seorang insinyur selalu bicara fakta dan data, sementara seorang pengebom bicara soal keyakinan

Itu sebabnya pengamanan seketat WTC, Pentagon, JW Marriott dan Ritz Carlton, tetap dapat ditembus.

Untuk jangka panjang, kiranya pemerintah perlu memperbesar porsi “berpikir kreatif” dalam pendidikan kita atau setidaknya membentuk sebuah lembaga berfikir kreatif (think tank) yang keluarannya dapat dipakai tidak hanya untuk pencegahan bom bunuh diri, namun juga dapat dipakai untuk memecahkan masalah lainnya.

Sedang untuk jangka pendek, pemeriksaan rutin dan masuk akal, kiranya hanya menjadi pelengkap.

Ingin cepat berubah ? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s