Puasa dan Rokok ?

Jika dilakukan wawancara pada para pecandu rokok tentang hal “gila” apa saja yang sanggup mereka lakukan saat ingin ngerokok ?

Maka akan ada yang bersedia melinting ulang puntung rokok, ada yang memilih tidak sarapan, ada yang bersedia ngutang, ada yang bersedia keluar jam 2 malam untuk mencari warung rokok, ada yang bersedia diomelin istri, bahkan ada yang memilih “putus” cinta daripada putus rokok (?).

Anehnya saat bulan puasa ternyata cukup banyak para pecandu rokok yang bisa menahan diri untuk tidak merokok sejak waktu imsak, hingga waktu berbuka (kecuali yang benar benar “gila” rokok), namun setelah berbuka, tidak jarang  kebiasaan merokok kembali dilanjutkan bahkan disertai aksi “balas dendam” dengan merokok lebih sering.

Peristiwa tersebut menunjukkan tentang adanya kemampuan seseorang untuk “mengontrol” dirinya, jika hal tersebut benar benar diinginkan dan hal tersebut sesuai dengan hukum emosi, yaitu “Jika terdapat dua keinginan pada waktu yang bersamaan, maka yang “bekerja” adalah keinginan yang kadar emosinya lebih kuat”.

Dengan demikian syarat apakah sebuah aktifitas benar benar diinginkan menjadi “hukum” yang dapat kita pakai untuk mengontrol hal hal positif lainnya (baca : kekuatan NIAT).

Contoh : Apakah niat menjalankan ibadah memang lebih diinginkan daripada niat merokok ? Apakah niat memiliki tubuh yang sehat dan segar memang lebih diinginkan ketimbang memiliki tubuh yang “rusak” akibat merokok ?

Anda ingin sehat ? Siapa Takut !

Ingin berhenti merokok ? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s