Zona Kendali ?

08/03/2007

  

Dalam kehidupan sehari hari, ada zona akitifitas yang oleh Sang Pencipta diserahkan kepada kita untuk dikendalikan, tetapi ada juga yang tidak.

Aktifitas tersebut meliputi semua aktifitas yang dapat kita kendalikan dengan nalar seperti :

menetapkan tujuan misal memilih mencari solusi ketimbang konflik, siap menghadapi setiap tantangan ketimbang menghindar, siap mengambil resiko ketimbang takut gagal
menyusun rencana misal mengambil hikmah, identifikasi persoalan, menganalisa persoalan / mencari akar masalah, pembiayaan jika harus membeli buku/majalah, konsultasi ataupun terapi
bertindak misal bertanya pada yang lebih berpengalaman, searching internet, ikut training, beli buku/majalah, konsultasi ke profesional atau terapi dsb.
bersabar untuk terus mengambil hikmah dan terus mengubah cara sampai hasil yang diinginkan tercapai.

Asy Syams (91) ayat 7 – 10 : dan jiwa serta penyempurnaaannya (ciptaannya); maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya; sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu; dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Akan tetapi diluar wilayah tersebut, sudah diluar zona kendali kita yaitu “musibah” dan “jalan pikiran” orang lain :

  • Musibah, sebagaimana yang dinyatakan di Al Baqarah (2) ayat 155 yang berbunyi :”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang orang yang sabar.” Dalam hal ini musibah sepenuhnya ada dalam zona kendali Sang Pencipta. Contoh :
    • Dapat saja kita sudah berhati hati memilih berjalan ditepi sebelah kiri (di dalam zona kendali), namun tetap juga ditabrak kendaraan lain (di luar zona kendali)
    • Kehilangan orang yang dicintai (di luar zona kendali)
    • Mengalami musibah kebakaran akibat keteledoran tetangga (di luar zona kendali), dsb.
  • “Jalan pikiran” orang lain siapapun dia, apakah atasan, bawahan, suami, istri, orang tua, anak, saudara dan tetangga. Walaupun kita tidak dapat merubah “jalan pikiran” orang lain, tetapi kita tetap dapat mempengaruhinya. Contoh :
    • Problem komunikasi dengan pasangan (di luar zona kendali), tetapi mengambil inisiatif mengikuti sesi konsultasi, terapi atau ikut pelatihan komunikasi (di dalam zona kendali)
    • Wanprestasi partner bisnis (di luar zona kendali), tetapi meminta bantuan mediator bisnis yang dihormati kedua belah pihak (di dalam zona kendali)
    • Anak malas belajar (di luar zona kendali), tetapi melakukan pendekatan melalui sahabat bermain anak (di dalam zona kendali), dsb.

Maka “cara” yang paling mudah mensikapi aktivitas diluar wilayah kendali kita seperti “musibah” dan “jalan pikiran” orang lain adalah dengan “berserah diri” kepada Sang Pencipta serta memohon selalu dalam “pemeliharaanNya”.

Ingin Cepat Berubah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Iklan

2 Responses to “Zona Kendali ?”

  1. Erva Says:

    CARA MENGATASI KEMALASAN BAGI SEORANG MAHASISWA MOHON DIBAHAS SECARA DETAIL YANG SESUAI DENGAN MASALAH UMUM DAN BAHASA UMUM (MAAF TANPA MEMAKAI AYAT-AYAT)

    • Servo Clinic Says:

      Mengubah “kebiasaan malas” letaknya pada mengubah mekanisme SERVO diri atau “respon otomatis” terhadap tanggung jawab. Lihat artikel berikut : Menghilangkan Rasa Malas.

      Rujukan ayat dipakai karena memiliki “nilai universal” dan merupakan fitrah kemanusiaan itu sendiri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s