Sakit Hati ?

Sakit hati adalah suatu keadaan yang menggambarkan suasana hati yang sangat marah, benci dan merasa dikhianati terhadap orang semula sangat disayangi dan dipercaya.

Hal tersebut disebabkan adanya kesenjangan yang sangat ekstrim antara harapan dengan kenyataan. Semakin besar kepercayaan yang kita berikan kepada seseorang semakin besar pula resiko sakit hati jika kenyataannya tidak sesuai dengan harapan.

Saat seseorang menginvestasikan “kepercayaannya” pada seseorang, pada atasan, pada perusahaan dsb., secara tidak disadari ybs. mengijinkan para pihak tersebut untuk masuk lebih dalam ke zona pertahanan alami dirinya.

Jika pilihan menginvestasikan kepercayaannya dilakukan secara sadar, biasanya ybs. telah memperhitungkan resikonya dan akan lebih siap menanggung apapun akibatnya dikemudian hari.

Namun hal tersebut dapat menjadi hal yang sangat menyakitkan jika ybs. tidak “siap” sebelumnya, apalagi disebabkan oleh paradigma yang salah seperti paradigma “Kalau saya berbuat baik dengan orang lain maka orang lain tersebut akan berbuat baik pula kepada saya”.

Pada realitanya “pikiran orang lain” merupakan zona diluar kendali kita maka kewaspadaan tetap diperlukan. Disinilah diperlukan kemampuan diri untuk terbiasa membaca jalan pikiran orang lain, apa, mengapa, kemana arah pembicaraan orang tsb. Demikian pula dibutuhkan sikap tegas, saat kita harus tegas misal saat saudara meminjam uang, maka perjanjian tertulis antara para pihak merupakan wujud sikap tegas.

Saat kenyataan tidak seperti yang kita inginkan maka sikap spontan yang harus kita tumbuhkan adalah menerima apapun hasilnya sebagai resiko “kebodohan” kita sebelumnya. Ikhlaskan dan kembalikan semuanya ke Sang Pencipta, jika kerugian yang kita alami sudah final dan tidak bisa kita ubah ataupun perbaiki karena merupakan “musibah”. Penyesalan ataupun sakit hati tidak akan memecahkan masalah bahkan menjerumuskan kita masuk kedalam “mekanisme uzur” atau “mekanisme gagal”.

Membiarkan diri menjadi sakit hati berarti menjerumuskan diri sendiri kedalam mekanisme uzur atau mekanisme gagal. Hal ini berpotensi membuat diri kita menjadi sangat menderita dikemudian hari, karena emosi sakit hati tersebut semakin lama akan semakin terakumulasi dan akhirnya mengalami fiksasi.

Seseorang yang telah mengalami fiksasi, jika harus berinteraksi dengan sumber stres biasanya akan merasa terpenjara dalam ruangan yang sempit, kaku, bau, sesak dan sering disertai nyeri pada ulu hati, dada berdebar debar, asam lambung meningkat. Jika berhasil menghindar biasanya akan terjebak pada rasa malas, kecanduan ataupun terobsesi untuk melakukan balas dendam.

Jika tidak dilakukan terapi pelepasan ketegangan (katarsis) hampir dipastikan dikemudian hari hidupnya akan menjadi sangat tidak produktif.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/kesaksian/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s