Takut

Sekali dalam hidup, saya dilumpuhkan oleh rasa takut. Waktu itu saya harus mengikuti ujian kalkulus, ketika baru menginjak tahun pertama di perguruan tinggi.

Entah bagaimana, pokoknya saya tidak belajar. Saya masih ingat ketika saya memasuki ruang ujian di pagi hari musim semi itu dengan perasaan kacau balau menggelayut di hati. Padahal saya kerap mengikuti kuliah di ruang itu. Tetapi pagi itu pemandangan di luar jendela seakan akan kosong dan ruang ujian itupun serasa tidak ada. Yang tampak hanyalah petak petak ubin dihadapan saya sewaktu saya berjalan menuju bangku di dekat pintu.

Sewaktu saya membuka buku ujian yang bersampul biru itu, telinga saya dipenuhi suara degup jantung, kecemasan serasa menghantam perut. Saya melihat soal soal ujian itu sekilas. Putus asa. Selama satu jam saya hanya mampu memandangi soal soal itu, sementara pikiran saya berputar putar merenungkan akibat yang akan saya tanggung.

Gagasan yang sama terulang terus menerus, membentuk lingkaran pita ketakutan dan kekhawatiran. Saya duduk tak bergerak, persis seekor hewan yang mati kaku terkena panah beracun. Yang paling mengejutkan saya akan momen menakutkan itu adalah betapa otak saya jadi “macet”.

Saya menyia nyiakan waktu ujian dengan tidak berusaha membuat jawaban sebisa bisanya. Saya tidak melamun. Saya hanya mampu duduk terpaku karena ketakutan, menunggu siksaan itu berakhir.

Sumber : Daniel Goleman, Vital Lies, Simple Truths : The Psychology of Self Deception.

Ingin bebas takut? KLIK > https://servo.clinic/kesaksian/

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s