Jalur Menuju Kejahatan ?

Dorongan menuju tindak kejahatan muncul sangat dini pada kehidupan anak anak.

Ketika anak anak di sebuah taman kanak kanak Montreal dinilai menurut keagresifan dan sifat suka membuat onarnya, anak anak yang pada usia lima tahun mendapatkan nilai paling tinggi, mempunyai bukti bukti ke arah tindak kejahatan yang lebih besar lima hingga enam tahun kemudian, saat mereka berumur belasan tahun.

Ketimbang anak anak lain, mereka kurang lebih tiga kali lipat lebih cenderung untuk mengakui bahwa mereka pernah memukuli seseorang yang tidak berbuat apapun pada mereka, pernah mengutil, pernah menggunakan senjata dalam perkelahian, pernah merusak atau mencuri onderdil mobil dan pernah mabuk mabukan-semua ini terjadi sebelum mereka mencapai umur empat belas tahun (Richard Tremblay et al.)

Jalur prototipe menuju kejahatan dan tindak kekerasan dimulai dengan anak anak yang agresif dan sulit ditangani sejak kelas satu dan kelas dua (Adriane Raines et al.). Biasanya, sejak tahun tahun pertama sekolah, buruknya pengendalian impuls mereka ikut berkontribusi pula sehingga mereka menjadi anak anak yang patut dikasihani, dianggap dan menganggap diri mereka sendiri “goblok”-penilaian ini ditegaskan dengan dipindahkannya mereka ke kelas pendidikan khusus (meskipun anak anak ini mungkin memiliki angka “hiperaktivitas” yang tinggi atau menderita gangguan belajar, tak berarti semuanya begitu).

Anak anak yang sewaktu masuk sekolah sudah belajar gaya “memaksa” di rumah mereka-yaitu menggertak- juga tak dipedulikan oleh guru mereka, yang harus banyak meluangkan waktu untuk menertibkan anak anak ini. Pelanggaran aturan sekolah yang tentu saja dilakukan oleh anak anak ini membuat mereka menyia nyiakan waktu yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk belajar; kegagalan akademis yang menjadi suratan tangan mereka biasanya menjadi jelas kurang lebih pada kelas tiga.

Walaupun anak laki laki yang condong untuk melakukan tindak kejahatan ini angka IQ nya cenderung lebih rendah darpada teman sebayanya, namun sifat impulsif mereka lebih merupakan penyebab langsung: sifat impulsif-dibandingkan dengan IQ-pada anak laki laki berumur sepuluh tahun, hampir tiga kali lipat merupakan alat prediksi ampuh bahwa mereka nantinya kemungkinan besar melakukan tindak kriminal (Journal of Abnormal Psychology 104, 1995).

Sumber : Kecerdasan Emosional, Daniel Goleman, 1996.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s