Pembuat Onar ?

Kecenderungan persepsi ke arah permusuhan sudah muncul pada saat anak anak masuk sekolah.

Sementara kebanyakan anak dan terutama anak laki laki, suka memberontak di taman kanak kanak dan kelas satu, anak anak yang lebih agresif gagal mempelajari cara mengendalikan diri saat mereka duduk di kelas dua.

Ketika anak lain mulai belajar berunding dan berkompromi untuk menyelesaikan perselisihan di tempat bermain, para pembuat onar ini semakin mengandalkan kekuatan dan gertakan. Mereka menanggung kerugian sosial: dalam waktu dua atau tiga jam setelah perjumpaan pertama di tempat bermain dengan seorang pembuat onar, anak lain sudah mengatakan bahwa mereka tidak menyukainya (J.D. Coie dan J.B. Kupersmidt).

Namun, penelitian yang melacak anak anak sejak masa taman kanak kanak sampai ke masa remajanya menemukan bahwa anak kelas satu yang suka mengganggu, tidak mampu bergaul dengan anak lain, tidak patuh kepada orang tua mereka dan membandel terhadap guru, hingga separonya akan menjadi penjahat remaja pada masa pubertas mereka (Dan Offord et al.).

Tentu saja, tidak semua anak nakal semacam itu menempuh perjalanan yang mengarah pada tindak kekerasan dan kejahatan di kemudian hari dalam hidup mereka. Tetapi dari semua anak, merekalah yang pada akhirnya beresiko paling besar melakukan tindak kejahatan dengan kekerasan.

Sumber : Kecerdasan Emosional, Daniel Goleman, 1996.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s