Sekolah Bagi Pembuat Onar ?

Menyimpangnya pikiran bawaan anak anak agresif seumur hidupnya merupakan kecenderungan yang hampir pasti menjamin bahwa mereka akhirnya akan menemui masalah.

Penelitian terhadap anak anak muda pelanggar hukum yang dipenjara karena tindak kejahatan dengan kekerasan dan terhadap murid murid sekolah menengah umum yang agresif menemukan stelan pikiran yang sama: bila mereka menghadapi kesulitan dengan seseorang, mereka akan segera menunjukkan sikap bermusuhan dengan orang itu, dengan seketika mengambil kesimpulan bahwa orang lain tersebut bersikap memusuhi mereka, tanpa mencari informasi lebih lanjut atau berusaha memikirkan cara damai untuk menyelesaikan perselisihan.

Oleh karena itu, akibat negatif pemecahan dengan kekerasan-perkelahian, biasanya-tidak pernah melintas di benak mereka. Bakat untuk bersikap agresif dibenarkan dalam pikiran mereka oleh keyakinan seperti, “Boleh boleh saja memukul seseorang, bila kita sedang panas panasnya”; “Bila kita takut berkelahi, orang akan menganggap kita pengecut”; dan “Orang yang kena banyak pukulan sebetulnya tidak merasa sakit sakit amat” (Ronald Slaby dan Nancy Guerra).

Namun, bantuan pada saat yang tepat dapat mengubah sikap ini dan menghentikan kecenderungan anak untuk melakukan tindak kejahatan; sejumlah program percobaan sukses dalam membantu anak anak agresif semacam itu untuk belajar mengendalikan kecenderungan antisosial mereka sebelum kecenderungan itu menjurus ke masalah yang lebih gawat.

Salah satu program di Duke University, melibatkan perusuh perusuh sekolah dasar yang penuh amarah dalam sesi sesi pelatihan selama empat puluh menit, dua kali seminggu, selama enam hingga dua belas minggu. Anak laki laki, misalnya, mendapat pelajaran untuk melihat bagaimana sejumlah isyarat sosial yang mereka tafsirkan sebagai bermusuhan itu sesungguhnya netral atau bersahabat.

Mereka belajar meninjau dari sudut pandang anak lain, untuk memperoleh perasaan bagaimana mereka dilihat orang dan merasakan apa yang barangkali dipikirkan dan dirasakan oleh anak lain dalam perselisihan perselisihan yang telah membuat mereka begitu marah.

Mereka juga mendapat pelatihan langsung dalam mengendalikan amarah melalui skenario skenario peragaan, seperti di ejek, yang dapat membuat mereka marah. Salah satu diantara keterampilan utama untuk mengendalikan amarah adalah memantau perasaan-menjadi peka akan perubahan pada tubuh mereka, seperti muka menjadi merah atau otot menegang, sewaktu mereka marah dan untuk mengartikan perasaan itu sebagai isyarat untuk berhenti dan mempertimbangkan apa yang akan dilakukan selanjutnya, bukannya langsung menyerang.

Sumber : Kecerdasan Emosional, Daniel Goleman, 1996.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s