Depresi pada Pelajar ?

Kemurungan atau kesedihan yang dirasakan oleh anak anak yang terabaikan di sekolah, anak yang tidak diajak bermain oleh anak lain membuat mereka tidak suka memulai hubungan sosial atau menghindar bila anak lain berusaha mengajak mereka-isyarat sosial yang akan dianggap sebagai penolakan oleh anak lain itu; hasil akhirnya adalah anak yang mengalami depresi selanjutnya ditolak atau diabaikan di tempat bermain.

Kekosongan dalam pengalaman antar pribadi mereka ini menyebabkan mereka melewatkan apa yang biasanya akan mereka pelajari dalam hiruk pikuknya permainan dan dengan demikian membuat mereka menjadi terbelakang secara sosial maupun emosional yang perlu dikejar sesudah depresinya lewat (Maria Kovacs dan David Goldston).

Sesungguhnya, bila anak yang mengalami depresi itu dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami depresi, mereka ternyata tidak terampil bergaul, teman temannya sedikit, lebih tidak disukai daripada teman main lainnya, tidak disayang dan mengalami lebih banyak kesulitan dalam berhubungan dengan anak lainnya.

Kerugian lain bagi anak ini adalah nilai buruk di sekolah, depresi mengganggu ingatan serta konsenterasi mereka, membuat mereka lebih sulit menaruh perhatian di kelas dan mengingat apa yang diajarkan. Seorang anak yang tidak merasakan kegembiraan dalam apa saja akan merasa sulit menghimpun tenaga untuk menguasai pelajaran yang menantang, apalagi mengalami flow dalam belajar.

Tentu saja, semakin lama anak anak pada penelitian Kovacs itu mengalami depresi, nilai mereka semakin merosot dan hasil tes prestasi mereka semakin buruk, sehingga besar kemungkinannya mereka akan tinggal kelas. Ternyata ada korelasi langsung antara lamanya waktu depresi seorang anak dan rata rata nilai pelajarannya dengan kemerosotan mantap selama berlangsungnya serangan depresi itu.

Semua kesulitan akademis ini, tentu saja, memperhebat depresi tersebut. Sebagaimana diamati oleh Kovacs, “Bayangkanlah: Anda merasa murung dan mulai mangkir ke sekolah, akibatnya Anda duduk di rumah sendirian, bukannya bermain dengan anak lain.”

Sumber : Kecerdasan Emosional, Daniel Goleman, 1996.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s