Mereka yang Kesepian ?

Inilah drama sekolah dasar :

Ben, anak kelas empat yang temannya hanya sedikit, baru saja mendengar dari salah seorang sahabatnya, Jason, bahwa mereka tidak bisa main bersama sama waktu makan siang nanti-karena Jason ingin bermain dengan anak lain, Chad.

Ben, karena sakit hati, menundukkan kepala dan menangis. Setelah tangisnya reda, Ben pergi ke meja makan siang tempat Jason dan Chad sedang makan.

“Aku benci kamu !” teriak Ben kepada Jason.

“Kenapa ?” tanya Jason.

“Karena kamu bohong,” kata Ben, dengan nada menuduh. “Seminggu ini kamu bilang kamu akan main denganku, tapi kamu bohong.”

Ben kemudian pergi menuju mejanya yang kosong, sambil menangis diam diam. Jason dan Chad menghampirinya dan mencoba berbicara dengannya, tetapi Ben menutup telinga dengan tangannya, berkeras hati tidak mengacuhkan mereka dan berlari ke luar ruang makan untuk bersembunyi di balik tempat sampah sekolah.

Sekelompok anak perempuan yang baru saja menyaksikan perselisihan itu mencoba mendamaikan, sambil menghampiri Ben dan mengatakan kepadanya bahwa Jason sebenarnya bersedia bermain dengannya juga. Tetapi Ben tak menghiraukan dan mengatakan supaya mereka membiarkannya sendirian.

Untuk mengobati luka hatinya, sambil merajuk dan terisak isak, ia bersikeras untuk menyendiri (Steven Asher dan Sonda Gabriel).

Saat saat yang memelas, tentunya; perasaan ditolak dan tak punya sahabat adalah salah satu perasaan yang diderita oleh hampir setiap orang pada saat tertentu di masa kanak kanak atau remaja. Tetapi yang paling mencolok pada reaksi Ben adalah kegagalannya menanggapi usaha Jason untuk memulihkan persahabatan mereka, sikap yang memperpanjang nasib buruknya saat nasib itu dapat berakhir.

Ketidak mampuan memanfaatkan isyarat penting adalah ciri khas anak yang tak disukai temannya; seperti kita lihat, anak yang ditolak dalam pergaulannya biasanya tidak mampu membaca isyarat emosional dan sosial; bahkan seandainya mereka bisa membaca isyarat semacam itu, barangkali repertoar respons mereka terbatas.

Sumber : Kecerdasan Emosional, Daniel Goleman, 1996.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s