Kompromi dalam Keluarga ?

Walau saat memutuskan menikah, sepasang kekasih memiliki tujuan yang sama yaitu ingin membentuk mahligai rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan wa rahmah, namun tujuan tersebut tidak dapat dicapai dengan sekali jadi, melainkan melalui sebuah “proses” formulasi yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Dalam proses mencari bentuk itulah terjadi interaksi, kompromi, saling memberi-menerima, saling percaya dan menghargai satu sama lain.

Hal tersebut dapat menjadi mudah jika masing masing pihak saling menghargai dan tidak memaksakan kehendak pada pasangannya karena walaupun memiliki tujuan yang sama, namun masing masing pihak memiliki kebiasaan, keyakinan dan kemampuan yang sesuai dengan keunikan masing masing.

Sebaliknya, walaupun masing masing pihak memiliki keunikan masing masing, namun hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak memberikan kontribusi dan partisipasi pada pasangannya, karena saling memberi dan melengkapi merupakan konsekwensi pernikahan.

Untuk itulah kesediaan untuk saling mengubah diri dengan kebiasaan baru (baca: kebiasaan keluarga) harus datang dari dalam diri sendiri sekaligus menerima ikhtiar berubah pasangannya dengan sabar dan apa adanya.

Jika perlu buat kesepakatan untuk sama sama mengambil kelas manajemen keluarga.

Ingin cepat berubah ? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s