Wakil Presiden yang Sarkastis ?

Dia adalah seorang insinyur berpengalaman, kepala proyek pengembangan perangkat lunak dan sedang menyajikan hasil kerja timnya selama berbulan bulan di hadapan wakil presiden untuk bidang pengembangan produk.

Anak buahnya yang telah menempuh hari hari kerja yang melelahkan selama berminggu minggu ikut mendampinginya dengan bangga menyajikan buah kerja keras mereka. Tetapi sewaktu insinyur itu rampung menyelesaikan presentasinya, sang wakil presiden menatapnya dan bertanya dengan nada sarkastis, “Berapa lama kamu lulus dari perguruan tinggi ? Spesifikasi ini tak bermutu. Saya takkan menyetujuinya.”

Insinyur tersebut, merasa amat malu dan patah semangat, duduk dengan wajah muram sepanjang sisa rapat, berdiam diri. Para anak buahnya dalam timnya mengajukan berbagai macam pernyataan-dan sebagian bernada memusuhi-untuk membela usaha mereka. Wakil presiden itu kemudian keluar dan rapat itu terhenti mendadak, menyisakan kepahitan dan amarah.

Selama dua minggu berikutnya, insinyur itu terganggu oleh pernyataan si wakil presiden. Patah semangat dan depresi, ia yakin bahwa ia tak akan pernah mendapat tugas penting lainnya di perusahaan tersebut dan berpikir untuk mengundurkan diri, meskipun ia menikmati pekerjaannya di situ.

Akhirnya insinyur itu menghadap si wakil presiden, mengingatkannya tentang rapat dahulu itu, pernyataan pernyataannya yang bernada mengkritik dan efeknya yang mematahkan semangat. Kemudian insinyur itu mengajukan pertanyaan yang disusunnya dengan hati hati :”Saya sedikit bingung mengenai yang Bapak inginkan. Tampaknya Bapak bukan sekedar berusaha mempermalukan saya-apakah Bapak mempunyai rencana sasaran yang lain ?”

Wakil presiden itu terperanjat-ia tak tahu bahwa pernyataannya yang dilontarkannya untuk main main, telah begitu banyak merusak. Padahal ia menganggap bahwa rencana perangkat lunak itu cukup menjanjikan, tetapi membutuhkan kerja lebih keras-ia tidak bermaksud untuk meremehkannya sebagai hal yang tak ada nilainya sama sekali.

Menurutnya, ia sama sekali tidak menyadari bahwa reaksinya sungguh menyakitkan dan bahwa ia telah melukai perasaan banyak orang. Dan meskipun terlambat, ia minta maaf.

Sumber : Hendrie Wisinger, The Critical Edge, 1989.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s